Connect with us

Uncategorized

HUKUM ENTHROPY …. JIKA MAPALA MAU DIPERLAKUKAN LAYAKNYA BENDA

Published

on

Yat Lessie
(poto istimewa)

Tulisan ini kembali diangkat kepermukaan, sehubungan dengan banyaknya keluhan yang masuk. Yaitu berhentinya nyaris semua kegiatan di mapala dan sispala, karena sekretariat yang menjadi sumber informasi, ikut terisolasi gara gara covid.

Akibatnya bisa dibayangkan, maka proses regenerasi akan terhenti. Tidak ada anggota baru untuk tahun ajaran ini. Padahal mereka sebagai mahasiswa dan siswa aktif, yang akan duduk dalam kepengurusan organisasi. Hal ini sesuai dengan kepmen dikti no 155 , th 1998. Tidak adanya anggota baru, berarti tidak ada kepengurusan, artinya organisasi bisa bubar atau setidaknya mati suri.

Jelas hal ini membuat kita semakin prihatin.

Diakui atau tidak, negara ini membutuhkan calon pemimpin dimasa depan yang teruji dan berangkat dari lumpur pekat. Bukan semacam malaikat yang harum dan kemilau, dan turun dari langit.

Negara ini butuh pemimpin2 muda, yang mampu membedakan antara sikap militan-inklusif, dengan sikap radikal-eksklusif. Pecinta alam sudah membuktikan bahwa dirinya mampu bersikap militan, digarda terdepan, ditengah bencana mencekam. Namun dia mampu bergabung sejajar dengan yang lainnya. Bukan sejenis kelompok radikalis, yang bermodal merasa yang “paling” ini dan itu. Sehingga harus dipandang dan diperlakukan sebagai komunitas yang eksklusif, dan mendapatkan privileges ( hak-hak istimewa ).

Perlahan pesimisme itu menyeruak, dihadapkan dengan berbagai situasi dan kondisi sekarang ini. Disana ada kelemahan dan ancaman, yang bisa menguapkan eksistensi kelompok pecinta alam negeri ini di berbagai strata.

Tapi, mari kita ingat kembali.

Sebuah fakta nyata, yang sudah berjalan selama puluhan tahun, bahwa Pecinta Alam adalah sebuah kaum yang “die-hard”. Yang enggak ada matinya. Yang ditahun 60 an, hanya berjumlah belasan saja. Namun sekarang bejibun sebanyak ribuan, dan tersebar keseluruh pelosok negeri. Padahal ujian, rintangan, cobaan, tekanan, rasanya tak kurang kurang, terjadi pada setiap jamannya.

Salah satunya, fakta-fakta sejarah yang ditulis dibawah ini ( repost-reminder )…

Masih ingat … ?

Hukum termodinamika ke 2 dari Sadi Carnot, tentang enthropy alias kekacauan energi ? , begini …. dalam sebuah sistem tertutup, maka energi negatip atau enthropy alias kekacauan akan meningkat, menuju equlibrium / kesetimbangan akhir, yaitu kematian panas.

Ambil contoh, motor berikan bensin sebanyaknya, lalu nyalakan biarkan langsam selama sejam, sehari, seminggu, sebulan, dst. …. jangan dimatikan. Akibatnya kita tahu, bahwa suatu saat mesin akan jebol sendiri. Entah ring sehr nya, entah piston nya, bahkan sebuah sekrup lepas, lalu mesin akan mati. Kemudian perlahan semua mendingin kembali, dan blok mesin akan dingin sebagai sebuah keseimbangan akhir.

Kenapa mesin jebol, ya karena tadi. Energi positip akan menurun, sebaliknya energi negatip / kekacauan / enthropy akan naik sejalan dengan waktu. Sampai akhirnya mesin tak sanggup lagi hidup. 

Apapun yang dikenai oleh hukum enthropy ( enthropy positip ), niscaya dia benda alias sebuah struktur materi. Salah satu cirinya yang paling umum adalah, bahwa kematian bisa terjadi cukup dengan satu penyebab saja. Lalu seluruh sistem akan mengalami kelumpuhan, menuju ekulibrium akhir, yaitu kematian panas itu sendiri.

Sebaliknya, jika sesuatu yang bukan materi / mesin, maka hukum enthropy tak berlaku. Yaitu kekacauan akan menurun, dan ketertataan akan semakin meningkat. Artinya kebalikan dari enthropy positip alias sebuah entrhopy negatip, dimana sebuah keseimbangan baru dicapai dalam dinamika yang semakin meningkat. 

Contohnya jelas, maka eksisten tadi berupa organisme. Lengkap dengan seluruh ranah kesadaran, kecerdasan dan aspek otonom nya. Dipuncaknya jelas, maka dia berupa manusia, dimana hak otonom secara ultimate dikatakan sebagai free-will alias sang kehendak bebas.

Ciri utama dari organisme, selain berkesadaran, bahwa dia hanya bisa mati oleh penyebab berganda. Bukan penyebab tunggal layaknya benda / mesin. Biasa disebut sebagai kegagalan organ berganda, dan orang medis biasa menyebutnya sebagai komplikasi. Yaitu akibat adanya penyebab yang bersifat looping serta terus menerus. Sehingga muncul istilah gagal ginjal, gagal jantung, dsb. Akhirnya menjadi penyebab bagi kematian biologis. Kalau yang berhenti pada denyut jantung, napas berhenti serta otak yang tak berlistrik lagi, disebut dengan kematian klinis.  

Mengapa organisme tidak dikenai hukum enthropy ? seperti layaknya mesin benda materi ?

Jawabnya sudah ditulis duluan, yaitu karena organisme bukanlah sebuah sistem tertutup. Dia bersifat terbuka, dan senantiasa memanfaatkan aliran energi, kalori, informasi, zat, dslb., untuk terus menerus memperbaharui dirinya, dalam proses metabolisma dan regenerasi, agar tetap eksis, bahkan berkembang semakin meningkat secara dinamis.

Pandangan lain dari pendekatan ini adalah, … jaring-jaring yang semakin kompleks, akan membuat sebuah eksisten berlaku layaknya sebuah organisme, yang mempunyai kesadaran dan kecerdasan sendiri ( otonom ). Contohnya sistem automathon, yang berfungsi untuk mencari keuntungan semata dalam casino global. Amerika nyaris collaps pada krisis th 2008 yang lalu, karena dirugikan sebesar 600 milliar dollar. Sistem automathon, sang macan peliharaan ternyata memakan tuannya sendiri.

Dus ….

Bagaimana caranya mematikan organisme yang berkesadaran dengan sekali pukul, melalui mekanisme hukum entrhopy, seperti pada mesin atau benda  ? …. gampang saja.

Masukan mereka kedalam sebuah sistem tertutup . Pastikan tidak ada aliran energi, zat, informasi, pembaharuan, pencerahan, yang bisa masuk. Sebuah upaya untuk mengisolasi dan mengalienasi. Seraya melepas dari tatanan sekitarnya, lalu berubah menjadi close-minded. Dan hanya dibutuhkan sebuah penyebab tunggal, maka sistem dimatikan, persis kaya orang matiin saklar lampu. … trek lalu pet, alias matot !

Organisme berkesedaran yang dimaterialisasi sehingga hukum enthropy bisa diberlakukan. Baik dengan cara mendadak, atau sebuah pembiaran atas kekacauan ( energi negatip ) yang membawa pada proses mati suri secara perlahan.

Cara lain yang paling umum adalah dengan pendekatan “struktur” sebagai sesuatu yang paling primer, dimana “fungsi” menjadi bersifat sekunder. Struktur ( materi ) lebih dipentingkan ketimbang fungsi ( kesadaran ). Hasilnya pasti berupa hambatan struktural alias hambatan birokratis. Karena pada setiap bagan struktur tadi pasti ada berhalanya. Yang dengan pongah selalu mengulang ulang kalimat … kalau enggak ada gue, kagak bakalan jalan. Kata sinergis menjadi kabur, karena hal ini hanya bisa terjadi jika pendekatan primernya melalui fungsi ( contoh tujuan, manfaat , dsb ). Dan samasekali bukan berhala struktural.

Hal ini hanya bisa dilakukan oleh mereka yang masih berfikir di abad 20 kemaren, dimana budaya materialisme ala newtonian masih dijagokan. Sebuah pemikiran usang yang out of date di abad 21 … kecuali, memang sebuah kesengajaan, demi kepentingan status-quo dari pihak-pihak tertentu. Karena alangkah naifnya jika kalangan birokrat dan teknokrat serta akademisi, tidak menyadari perkembangan keilmuan ini.

Willis Harman dalam Global Mind Change menyebutkan, bahwa pada abad kemaren yang berlaku adalah Matter give rise to Mind. Atau materi dulu, baru kesadaran. Sedang untuk abad 21 berlaku terbalik, yaitu Mind give rise to matter. Fungsi adalah induk dari struktur, sedang struktur hanyalah derivat turunan dari adanya fungsi.

Mapala …

Dia mewakili sebuah fungsi, yaitu pusat pusat pengkaderan dari manusia dan pemimpin yang berkarakter dimasa depan. Yang sadar sepenuhnya, bahwa knowledge is power, but characters is more. Karakter yang menentukan keberhasilan hidup, sedang technical expertise hanya menjadi penunjang saja. Sedang karakter bukanlah materi atau sesuatu yang bisa dimaterialisir, dengan cukup mengandalkan variabel dan parameter kuantitatif saja. Karakter yang hanya bisa didapat dengan cara dilakukan ( partisi partorik, ekspidensial learning ), bukan sebatas untaian kata-kata dalam sekatan ruang-ruang kelas di kampus.

Mapala …

Sejak pendiriannya di media tahun 60 an, adalah sebuah sistem terbuka. Yang menimba pengetahuan dari lingkungan sekitarnya, sehingga terus berkembang dari segi kesadaran dan kecerdasannya. Saat bermula hanya sebatas menjadi pendaki gunung ,penempuh rimba, penakluk tantangan alam yang machois, lalu berubah menjadi pecinta alam dengan pengayaan pada aspek feminisme nya ( feminisme sebagai cara pandang, bukan dalam konteks gender ).

Mapala …

Menjadi bukti, saat organisasi formal lain mati suri perlahan-lahan. Padahal sudah mendapat dukungan penuh dari dana APBN. Namun Mapala tetap hidup, bahkan semakin marak ditanah air. Sekaligus sebagai pembuktian, bahwa “ruh” itu bukan berada di ranah struktural material dengan dukungan dananya, namun dalam jiwa dan kesadaran. Yaitu saat menimba langsung dari alam dan lingkungan sekitar, melalui sebuah sistem yang berinteraksi secara terbuka, layaknya sebuah organisme hidup.

Mapala …

Adalah solusi dari anak negeri. Untuk pembangunan jati-diri, bahwa kita putra-putri tanah pertiwi. Saat Jepang punya bushido, Jerman punya Deutchland Uber Alles, kita punya apa ?. Saat para petinggi sibuk mencari solusi bagaimana membangun karakter bangsa, entah berapa puluh ratus trilliun rupiah dikeluarkan untuk sejumlah usaha. Baik diskusi di kampus, atau seminar di hotel berbintang. Namun adakah hasilnya, kecuali mirip proyek P4, tentang penghayatan Pancasila, namun korupsi justru semakin menggila. Hanya kembali lagi, Pancasila dibuat menjadi struktur, dimaterialisasi, dihapal … jauh dari “penghayatan”.

Sayangnya ….

Mapala tak hendak dilihat. Diberangus kedalam sistem tertutup, konon dengan memakai jargon sistem pendidikan tinggi. Dikerangkeng dalam struktur yang dipenuhi ancaman. Awas DO, awas kena sangsi admnistratif, dan tentu saja …. awas dipidana dan masuk penjara.

Sistem dibuat tertutup, isolasi dan alienasi, berlaku layaknya benda dan mesin, maka …. cukup satu penyebab, entah aksiden atau insiden, sang eksisten akan mengalami enthropy. Lalu bergerak menuju ekulibrium akhir, berupa kematian panas. Kematian harapan, kematian kesadaran, kematian semangat, yang tinggal hanya berupa ekulibrium akhir, dalam bentuk stagnasi kesadaran.

Menyedihkan, Mapala hanya dipandang sebagai sebuah strukur. Hanya bagian kecil dari sebuah mesin produksi, yang bernama perguruan tinggi.

Tapi tak hendak …

Open system, serta dukungan dari semua pihak itu pasti ada, baik eksekutif dan legislatif, jika Mapala dirubah / re-design jadi proyek e-Mapala. Karena bukankah segala macam yang pakai “e” didepan pasti dapet dukungan. Seperti e-KTP contohnya, dimana ribuan orang dapat duit bancakan. Karena arti ‘e” disana bukanlah sebuah fungsi yang semakin maju, namun berarti pengumpulan duit alias materi… he he 😀

So ….

Ketika sejumlah mapala di perguruan tinggi dikenai musibah, maka kita serentak bersuara. Wahai para sohib di Bramatala Widyatama, Universitas Lampung, dan lain-lain, yang terakhir di UNISI … kita sama sama prihatin pada apa yang terjadi.

Namun suara dan dukungan, hanya menjadi bukti, bahwa kita saling terhubung.

Bahwa sekalipun banyak pihak yang menginginkan kita menjadi mesin, dengan cara dimasukan dalam sistem tertutup. Namun sesungguhnya kita tetap memakai sistem yang terbuka. Karena Mapala bukan mesin produksi, karena Mapala bukan e-mapala yang berarti materi, duit dan kekuasaan.

Karena Mapala berarti …. . Sebuah kesadaran yang terkolektifkan, untuk saling mendukung, silih asih, silih asah, silih asuh dan silih wangi, … at any cost, seperti yang tersirat dan tersurat dalam kode etik Pecinta Alam Indonesia.

Sekaligus menjadi bukti

bahwa Mapala bukan mesin yang mudah dimatikan

dengan memakai mekanisme kekacauan sang enthropy

Tapi layaknya organisme yang akan tetap tumbuh menyubur

untuk mencapai cita cita seluruh anak bangsa. 

Yat Lessie.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Uncategorized

Kang Nurdin DSPC Bogor di Nobatkan Sebagai Panglima Baranusa Depok dan ketua DPC. Perguruan Silat Maung Bodas Kab. Bogor.

Published

on

Arak arakan pengukuhan Kang Nurdin sebagai Panglima Baranusa Depok dan Ketua DPC. PS. Maung Bodas Kab. Bogor Jabar. (Poto istimewa)

Bogor, Keradenan

Dalam acara Perhelatan Haul  KH. Safe’i bin Nasib tokoh ulama dan wali penyebar agama Islam Keradenan Bogor  yang dihadiri oleh beberapa perkumpulan Perguruan silat dan Ormas ke Kab. Bogor berlangsung hikmat meriah. Dalam acara perhelatan dilangsungkan juga pengukuhan Kang Nurdin DSPC sebagai Panglima Baranusa Depok dan Ketua DPC. Perguruan silat Maung Bodas Kab. Bogor Jabar. (Kamis 27 Juli 2023)

Adapun yang mengukuhkan diantaranya KH. M. Fajar Laksana pimpinan Pondok Pesantren Al.Fath Sukabumi Jabar, ketua DPC. PS. Maung Bodas DKI Jakarta pak Hartono,  Muspika wilayah Keradenan serta para pemuka masyarakat dan ketua Perguruan silat Jabodetabek.

‌Kang Nurdin mengatakan bahwa salam satu komando, salam sabatin, salam budaya. Acara ini terselenggara berkat sokongan dan doa restu dari berbagai perguruan silat yang satu rasa satu nafas alam mempertahankan seni budaya pencak silat Jawa Barat. Disamping itu ini adalah bentuk silaturahmi yang terus menerus dan tiada henti. Insya Allah ke depan pelestarian seni budaya silat Sunda dan Betawi dapat dukungan dari masyarakat dan pemangku kebijakan di wilayah maupun tingkat Nasional”.

kang Nurdin menambahkan, Dengan semangat pertahanan serta pelestarian terhadap seni budaya silat Sunda dan Betawi kami para pesilat siap bersinergi dengan berbagai instansi terkait pemberdayaan kebudayaan seni silat Sunda dan Betawi. Dan juga kami akan selalu mengadakan sosialisasi terhadap generasi muda untuk mencintai budaya silat”. Jelas kang Nurdin. 

Continue Reading

Uncategorized

Kaesang Pangarep Resmikan Outlet Sang Pisang di Kota Depok

Published

on

 Depok. 

– Kedatangan Putra bungsu Presiden Joko Widodo, Kaesang Pangarep menyambangi Sawangan Depok, Jawa Barat. Kaesang datang bersama istrinya, Erina Gudono, 

“Selamat sore semuanya terima kasih buat semuanya, Ibu-ibu, Bapak-bapak, dan Adik-adik juga terima kasih sudah menyempatkan hadir di grand opening Sang Pisang,” ujar Kaesang dalam sambutannya, di Jalan Abdul Wahab, Sawangan Depok  Selasa (25/7/2023).

” Kaesang datang mengenakan baju berwarna putih dan krem. Sedangkan Erina mengenakan baju berwarna hitam.

“Menurutnya, kedatangannya ke Depok hanya untuk meresmikan gerai makanan miliknya di Sawangan. Bukan untuk berkampanye, meski digadang-gadang akan maju di Pilkada Depok 2024.


“Kaesang mengatakan kedatangannya untuk membuka usaha makannya. Kaesang menyebut kedatangannya ke lokasi bukan untuk kampanye.


“Perlu saya ingatkan sekali lagi ini bukan kampanye, ini saya buka Sang Pisang di sini,” lanjutnya.


Pada pukul 16.18 WIB, Kaesang bersama Vicky Prasetyo dan Babe Cabita berkaraoke. Mereka juga ramai difoto oleh warga di lokasi.

“Terima kasih yang sudah menyempatkan hadir di grand opening Sang Pisang. Perlu saya ingatkan sekali lagi, ini itu bukan kampanye,” jelas Kaesang, Selasa.

“Saya di sini akan membuka Sang Pisang di Depok yang kedua karena dulu sudah pernah di Margonda, cuma tutup. Saya buka lagi di Sawangan kali ini,” Pungkasnya.

Continue Reading

Uncategorized

Dalam rangka Hari Dharma Karya Dhika (HDKD) Ke-78 Tahun 2023, Badan Strategi Kebjakan Hukum dan HAM Gelar Seminar Nasional Bertema Hukum Yang Hidup Dalam Masyarakat

Published

on

 Jakarta, Graha Pengayoman 

Seminar Nasional “Menyongsong Berlakunya Hukum yang Hidup dalam Masyarakat Berdasarkan UU No. 1 Tahun 2023 tentang KUHP”  (Badan Strategi Kebijakan Hukum dan HAM Kementerian Hukum dan HAM)

Dalam rangka Hari Dharma Karya Dhika (HDKD) Ke-78 Tahun 2023, Badan Strategi Kebjakan Hukum dan HAM menyelenggarakan acara Seminar Nasional bertema “Menyongsong Berlakunya Hukum yang Hidup Dalam Masyarakat Berdasarkan UU No. 1 Tahun 2023 tentang KUHP” Kegiatan ini dimaksudkan selain sebagai wadah sosialisasi kebijakan Pemerintah khususnya tentang KUHP baru kepada masyarakat, juga sebagai bentuk identifikasi isu, permasalahan serta kebutuhan atas pengaturan konsep “hukum yang hidup di dalam masyarakat”. 

Hal ini dimaksud agar Pemerintah, khususnya Kementerian Hukum dan HAM dapat menjanng masukan dari berbagai pihak atas materi muatan yang perlu dimuat pada Peraturan Pemenntah (PP) yang akan dibuat tentang Tata Cara dan Kriteria Penetapan Hukum yang Hidup Dalam Masyarakat. 

Kegiatan ini menghadirkan 5 (lima) Narasumber diantaranya:

 adalah Prof. Dr. Edward O.S. Hianej, S.H., M.Hum., Wakil Menteri Hukum dan HAM, sebagai keynote speech yang menyampaikan maten tentang Politik Hukum dan Arah Pengaturan Hukum Adat dalam KUHP. 

Selain itu kegiatan ini juga menghadirkan narasumber eksternal lainnya seperti :

1) Prof. Dr. Pujiyono, S.H., M.Hum.. Guru Besar Fakultas Hukum Universitas Diponegoro, yang memaparkan mengenai Pluralisme Hukum: Hukum Positif dan Hukum yang Hidup dalam Masyarakat: 

2) Dr. H. Prim Haryadi, S.H., M.H., Hakim Agung Mahkamah Agung RI, yang memaparkan tentang Tantangan Penerapan Hukum yang Hidup dalam Masyarakat dalam Penegakan Hukum,

 3) Fery Fathurokhman, S.H., M.H., Ph.D., Dosen Bidang Hukum Pidana (Pidana Adat) Universitas Sultan Agung Tirtayasa yang menyampaikan tentang Strategi Inktusi Hukum Adat ke dalam Hukum Pidana Nasional,

  4) Erasmus A.T. Napitupulu, S.H., Direktur Eksekutif /Institure for Criminal Justice Reform (ICJR) yang menyampaikan tentang Pembaharuan Hukum Pidana dalam Konstruksi Formalisasi Hukum yang Hidup dalam Masyarakat. 

Pada kesempatan ini peserta adalah semua pihak yang berkaitan dengan proses pembentukan PP tentang Tata Cara dan Kriteria Penetapan Hukum yang Hidup Dalam Masyarakat, baik dari unsur kementerian/lembaga : organisasi nonpemerintah, akademisi : serta masyarakat umum.

Continue Reading

Trending